Sabtu, 30 November 2013

ku tunggu engkau menjadi imamku


2 SAJADAH
Banyak orang yang mengatakan cinta pada masa anak-anak hanyalah cinta yang sifatnya semu “cinta monyet,” akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi seorang Latifah Assyifah yang akrab disapa Latifah. Seorang wanita cantik yang santun, ramah, dan cerdas. Dari tuturan kisah hidupnyalah aku dapat memahami apa arti dari kata cinta dan kesetiaan.
9 Tahun yang lalu, saat duduk di bangku kelas VI SD, dia ternyata menyukai teman kelasnya yang bernama Naufal. Tidak seorangpun yang tahu tentang perasaannya, termasuk Naufal. Sifat Naufal yang cuek dan pendiam membuatnya kurang bergaul dengan teman-temannya yang lain. Setiap hari Latifah selalu berusaha untuk bisa dekat dengannya, akhirnya mereka menjadi sahabat karib. Waktu terus berlalu, tanpa terasa tibalah waktu bagi mereka untuk berpisah. Latifah melanjutkan pendidikan ke salah satu SMP di kabupaten Takalar, sementara Naufal memutuskan untuk ikut dengan ayahnya yang di mutasi ke salah satu SMP di kabupaten Bantaeng. Jauhnya jarak diantara mereka ternyata tidak menjadi alasan bagi Latifah untuk berhenti mencintai Naufal. Dibangku SMP Latifah rela menolak semua laki-laki yang meminta untuk menjadi pacarnya, demi menunggu setitik cinta dari Naufal.
Waktu terus melaju, Latifah sudah duduk di kelas X SMAN 1 Takalar, walaupun Naufal tak pernah memberinya kabar, namun tetap saja dia tak bisa melupakannya. Saat itu, di sekolah Latifah, beredar kabar akan datang siswa pindahan dari kabupaten Bantaeng. Latifah sangat berharap itu adalah Naufal. Takdir pun menjawab penantiannya, siswa baru itu benar adalah Naufal dan dia ditempatkan sekelas dengan Latifah. Naufal tumbuh menjadi pemuda yang tampan, cerdas, namun sangat dingin terhadap wanita. Sudah ratusan kali Latifah mencoba mendekatinya, namun dia tetap tak memperdulikannya. Bahkan, mereka sering satu kelompok, tetapi, sekalipun Naufal tak menunjukkan tanda-tanda mereka bisa akrab. Sikapnya yang acuh-tak acuh dan dingin membuat hati Latifah semakin tidak menentu.
Saat acara perpisahan SMA, Naufal dan Latifah terpilih sebagai siswa berprestasi seangkatannya. Mereka duduk berdampingan di vodium utama. Dalam hati, Latifah berharap Naufal akan menyapanya, namun jauh dari khayalan, Naufal hanya diam tanpa kata satu pun. Akhirnya Latifah memulai pembicaraan.
“Kamu mau lanjut dimana?” tanya Latifah
“UNHAS” jawab Naufal
“Fakultas?” lanjut Latifah, mencoba memperpanjang percakapan
“Kedokteran, kamu”? Naufal menjawab sambil balik bertanya kepada Latifah
“Kalau aku mau lanjut di UNM Fakultas Matematika” jawab Latifah bersemangat
“Oh..” respon Naufal singkat
Meskipun Latifah sudah bertanya dengan semangat menggebu-gebu, jawaban Naufal sangatlah singkat. Sikap Naufal yang tak kunjung membaik membuat Latifah memutuskan untuk melupakan semua tentangnya.
                        Selama 5 tahun mereka tidak pernah bertemu.. Jarak dan waktu berhasil memudarkan perasaan Latifah. Namun, Allah swt ternyata punya rencana lain, mereka kembali dipertemukan dalam sebuah acara pernikahan salah seorang guru SMA mereka. Sikap Naufal tidak lagi seacuh yang dulu, saat Latifah menyapanya dia memberikan respon.
“Naufal yah?” sapa Latifah
“Yah, aku Naufal, eh..kamu Latifah kan?” tanya Naufal
“Iya, kamu masih ingat aku yah. Aku pikir tidak ada teman SMA kita yang  kamu ingat” ujar Latifah
            “ ah..tidak juga cuman beberapa kok yang aku ingat termasuk kamu.” Jawab Naufal           sembari tersenyum.
            “kamu sekarang banyak berubah, sudah tidak secuek waktu SMA” lanjut Latifah
            “maaf yah selama SMA sikap aku seolah tidak peduli pada kalian semua.” kata  
    Naufal merenung
              “ngomong-ngomong, aku sudah lama nih mau bertanya, apa kita pernah bertemu
             selain di SMA?” tambah Naufal
            “yah, kita pernah satu kelas saat SD” jawab Latifah tertunduk
            “astaga..ternyata dugaanku selama ini benar, kamu adalah Latifah teman SD ku 
             dulu. Maafkan aku, selama SMA aku selalu bersikap dingin terhadapmu, tetapi itu  
               karena aku tidak mau ada wanita yang menyukaiku” kata Naufal dengan nada
                penyesalan.                                                                                       
              “memangnya kenapa kalau ada wanita yang menyukaimu? tanya Latifah dengan
                wajah tak mengerti
              “aku hanya tidak mau menyakiti mereka, karena aku telah mencintai seseorang,” 
                tambah Naufal mengungkapkan perasaanya
              “kamu benar-benar adalah laki-laki yang baik. Sungguh beruntung wanita yang
                memiliki cintamu. Kalau boleh aku tau siapa gerangan wanita beruntung itu?” Puji
                Latifah
              “aah..nanti kamu juga pasti tahu. Aku akan segera melamarnya, dan kamu adalah
                orang pertama yang akan ku beritahu hasilnya.” Naufal menjawab sambil 
                bercanda
              “aku do’akan semoga kamu bahagia bersamanya. Eh.. aku sudah harus pulang, aku
                lupa kalau ibuku menyuruhku untuk membeli obat di apotek.”  Latifah menutup
                pembicaraan, dan bergegas meninggalkan tempat acara”
hati Latifah sangat sakit mendengar berita bahwa Naufal akan segera menikah. Walau bagaimanapun, dia masih memiliki perasaan terhadap Naufal. Namun, dia juga telah mengetahui bahwa sebentar lagi Naufal akan menjadi milik orang lain. Untuk menenangkan hatinya, Latifah meminta izin kepada orangtuanya untuk berlibur ke rumah kakeknya di Kabupaten Sinjai selama 3 hari. Orantuanya mengizinkan, dan pada hari itu juga Latifah langsung berangkat ke rumah kakeknya.
              Hari kedua Latifah berada di Sinjai, tepatnya Ba’da Isya, dia mendapat kabar dari ayahnya bahwa saat itu di rumahnya sedang ada seorang pemuda bernama Dzaki, datang bersama keluarganya untuk melamarnya. Tanpa bertanya panjang lebar, Latifah langsung mengatakan kepada ayahnya bahwa dia mau menjadi istri pemuda itu, dengan syarat pesta pernikahannya dilaksanakan besok malam ba’da Isya. Walaupun terkesan sangat terburu-buru, tetapi yang ada dalam benak Latifah, ini adalah jalan keluar dari Allah swt untuk menyelesaikan masalahnya.
              Mendengar jawaban putrinya, ayah Latifah langsung menemui Dzaki dan menyampaikan jawaban sekaligus persyaratan yang diajukan Latifah. Dzaki meminta waktu untuk bernegosiasi dengan orangtuanya. Dan akhirnya, mereka menyanggupi persyaratan Latifah.
              Keesokan harinya, sambil menunggu Latifah tiba, kedua keluarga tersebut saling membantu mempersiapkan kelengkapan jalannya prosesi pernikahan termasuk memilih gaun pengantin untuk calon mempelai. Gaun pengantin untuk Latifah dipilih langsung oleh Dzaki. Gaun berwarna putih berenda lengkap dengan jilbab putih sepasang dengan pakaian untuk pengantin pria menjadi pilihan Dzaki. Untuk tamu undangan mereka hanya mengundang sanak-saudara mereka saja.
              Sesampainya  di rumah, Latifah beristirahat kurang lebih 2 jam sebelum kembali lagi berangkat ke tempat Rias Pengantin. Dalam perjalanan Latifah meyakinkan hatinya bahwa Dzaki adalah yang terbaik untuknya. Meskipun dia sendiri belum pernah melihat Dzaki namun dia percaya Dzaki pasti adalah pemuda yang tepat untuk menjadi Imamnya. Di satu sisi Dzaki sedang sibuk membungkus kado hadiah pernikahannya untuk Latifah.
              Pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8.00, kedua calon mempelai, penghulu, keluarga dan para tamu telah berkumpul di dalam Gedung tempat acara pernikahan. Kedua mempelai dipersilahkan memasuki ruangan untuk melakukan prosesi ijab kabul. Latifah datang dari pintu sebelah kanan, dia nampak begitu anggun dengan gaun putih di tubuhnya. Sementara Dzaki datang dari pintu sebelah kiri. Mereka saling memandang, dan betapa kagetnya Latifah melihat laki-laki yang ada di hadapannya adalah Naufal Mumtaz Ad-Dzaki, laki-laki yang telah lama dicintainya. Air mata kebahagiaan jatuh dari kedua bola mata matanya.  Sedikitpun dia tidak tahu kalau Dzaki ternyata hanyalah nama lain dari Naufal. Dia bersyukur karena pada akhirnya Allah swt  mempersatukannya dengan Naufal Mumtaz Ad-Dzaki, laki-laki yang selalu dia harapkan menjadi imamnya. Disisi lain, Naufal alias Dzaki tertawa karena rencananya untuk membuat Latifah terkejut berhasil. Proses Ijab kabul berjalan lancar dan pertanda sekarang mereka adalah sepasang kekasih yang sah secara agama dan hukum. Setelah para tamu pulang, Latifah, Naufal dan semua keluarganya pulang ke rumah Naufal. Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk ke kamar, di dalam kamar Latifah memukul Naufal dengan manja sambil berkata:
              “bukankah kanda mengatakan bahwa kamu akan melamar seorang gadis yang telah 
                lama kamu cintai?” tanya Latifah heran
              “tetapi aku tidak mengatakan bahwa itu bukan dinda kan?” jawab Naufal merayu
              “jika wanita yang kanda maksud itu adalah dinda, lalu kenapa kanda tidak pernah 
                menyapa dinda saat SMA dulu?” tanya Latifah merajuk
              “maaf yah dinda, sebenarnya kanda tidak tahu kalau kamu itu adalah gadis yang
                sama dengan gadis yang kanda cintai sejak SD, karena pada waktu SD dinda belum
                berjilbab, sementara waktu bertemu di SMA dinda sudah berjilbab dan
                semakin cantik, jadi kanda tidak mengenali dinda, maklum kanda agak pelupa”
                jawab Naufal menjelaskan
              “kanda..apa kanda tahu sebenarnya dinda juga mencintai seseorang sejak SD?”
                tanya Latifah
              “aku tidak tahu. Siapa dia?” Jawab Naufal cemburu
              “dia adalah Naufal Mumtaz Ad-Dzaki teman SD dinda” Jawab Latifah tertawa
              “dinda memang pandai menggombal, sebagai hadiahnya kanda akan memberikan
                sesuatu yang istimewa hanya untuk dinda. Silahkan dibuka” tambah Naufal sambil
                mengulurkan sebuah bingkisan kecil berwanra biru muda
              “cantik sekali kalungnya kanda terima kasih.” ucap Latifah  setelah membuka
               bingkisan tersebut.
              “kanda senang kamu suka dengan kalung itu” jawab Naufal
              “dinda sangat bahagia kanda, karena mulai sepertiga malam sebentar, akan ada
               orang yang berdiri memimpin dinda untuk bersujud kepada-Nya” ujar Latifah

              “selama kanda bisa, kanda akan berdiri di depan dinda di setiap rakaat” tambah Na
              “Ana Uhibbuka Fillah” ucap Latifah
              “Wa Ana Uhibbu Ma’aki Fillah.” jawab Naufal
Ternyata isi bingkisan tersebut adalah sebuah Liontin emas bertuliskan NaufaLatifah. Setelah resmi menjadi suami istri, mereka hidup bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.























UNSUR INTRINSIK CERPEN “KU TUNGGU ENGKAU MENJADI IMAMKU”
1)      Tema: Percintaan
2)      Latar:
a.      Latar tempat: SD, SMAN 1 Takalar, tempat acara perpisahan, tempat pesta pernikahan guru SMA Latifah dan Naufal, di rumah Latifah, di rumah kakek Latifah, di Gedung tempat acara pernikahan Latifah dan Naufal, di kamar, di rumah Naufal
b.      Latar waktu: Pagi, siang, malam
c.       Latar suasana: Mengharukan dan
3)      Penokohan (tokoh dan watak):
a.      Latifah: ramah, cerdas, santun, sabar, setia dan manja
b.      Naufal: pendiam, cerdas, setia, romantis, lucu, cekatan dan sulit ditebak
c.       Ayah Latifah: Baik, penyayang, bijaksana
d.      Orang tua Naufal: baik, bijaksana, pengertian
e.      Keluarga Naufal dan Latifah: baik
4)      Alur: alur mundur (menceritakan masa lalu)
5)      Sudut pandang: orang ketiga (penulis sebagai pencerita)
6)      Gaya bahasa: hiperbola
7)      Amanat: Yakinlah bahwa Tuhan pasti menyediakan yang terbaik untuk kita.
Jika Dia menakdirkan kita berjodoh dengan orang yang kita cintai, maka tidak ada seorangpun yang dapat merebutnya dari kita


 












                       
                          













Cinta monyet, kata itulah yang sering digunakan untuk melambangkan kesemuan perasaan anak-anak sekolah dasar pada teman lawan jenisnya. Cinta adalah perasaan, monyet adalah sejenis kera,  jadi kalau diartikan berdasarkan asal katanya, cinta monyet adalah perasaan sejenis kera. Lalu mengapa julukan ini juga digunakan untuk melambangkan cinta anak-anak?  Mungkin kembali lagi yah pada teori Darwis bahwa manusia itu berasal dari evolusi kera. Kalau kera dikatakan  bisa berevolusi menjadi manusia, kenapa kera yang sekarang tidak berubah-berubah yah? Ah...sudahlah kalau membahas tentang teori bisa panjang kali lebar.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar