2
SAJADAH
Banyak orang yang mengatakan cinta
pada masa anak-anak hanyalah cinta yang sifatnya semu “cinta monyet,” akan
tetapi hal ini tidak berlaku bagi seorang Latifah Assyifah yang akrab disapa
Latifah. Seorang wanita cantik yang santun, ramah, dan cerdas. Dari tuturan
kisah hidupnyalah aku dapat memahami apa arti dari kata cinta dan kesetiaan.
9 Tahun yang lalu, saat duduk di
bangku kelas VI SD, dia ternyata menyukai teman kelasnya yang bernama Naufal. Tidak
seorangpun yang tahu tentang perasaannya, termasuk Naufal. Sifat Naufal yang
cuek dan pendiam membuatnya kurang bergaul dengan teman-temannya yang lain.
Setiap hari Latifah selalu berusaha untuk bisa dekat dengannya, akhirnya mereka
menjadi sahabat karib. Waktu terus berlalu, tanpa terasa tibalah waktu bagi
mereka untuk berpisah. Latifah melanjutkan pendidikan ke salah satu SMP di
kabupaten Takalar, sementara Naufal memutuskan untuk ikut dengan ayahnya yang
di mutasi ke salah satu SMP di kabupaten Bantaeng. Jauhnya jarak diantara
mereka ternyata tidak menjadi alasan bagi Latifah untuk berhenti mencintai
Naufal. Dibangku SMP Latifah rela menolak semua laki-laki yang meminta untuk
menjadi pacarnya, demi menunggu setitik cinta dari Naufal.
Waktu terus melaju, Latifah sudah
duduk di kelas X SMAN 1 Takalar, walaupun Naufal tak pernah memberinya kabar,
namun tetap saja dia tak bisa melupakannya. Saat itu, di sekolah Latifah,
beredar kabar akan datang siswa pindahan dari kabupaten Bantaeng. Latifah
sangat berharap itu adalah Naufal. Takdir pun menjawab penantiannya, siswa baru
itu benar adalah Naufal dan dia ditempatkan sekelas dengan Latifah. Naufal
tumbuh menjadi pemuda yang tampan, cerdas, namun sangat dingin terhadap wanita.
Sudah ratusan kali Latifah mencoba mendekatinya, namun dia tetap tak
memperdulikannya. Bahkan, mereka sering satu kelompok, tetapi, sekalipun Naufal
tak menunjukkan tanda-tanda mereka bisa akrab. Sikapnya yang acuh-tak acuh dan
dingin membuat hati Latifah semakin tidak menentu.
Saat acara perpisahan SMA, Naufal
dan Latifah terpilih sebagai siswa berprestasi seangkatannya. Mereka duduk
berdampingan di vodium utama. Dalam hati, Latifah berharap Naufal akan
menyapanya, namun jauh dari khayalan, Naufal hanya diam tanpa kata satu pun.
Akhirnya Latifah memulai pembicaraan.
“Kamu mau lanjut dimana?” tanya
Latifah
“UNHAS” jawab Naufal
“Fakultas?” lanjut Latifah, mencoba
memperpanjang percakapan
“Kedokteran, kamu”? Naufal menjawab
sambil balik bertanya kepada Latifah
“Kalau aku mau lanjut di UNM
Fakultas Matematika” jawab Latifah bersemangat
“Oh..” respon Naufal singkat
Meskipun Latifah sudah bertanya
dengan semangat menggebu-gebu, jawaban Naufal sangatlah singkat. Sikap Naufal
yang tak kunjung membaik membuat Latifah memutuskan untuk melupakan semua
tentangnya.
Selama
5 tahun mereka tidak pernah bertemu.. Jarak dan waktu berhasil memudarkan perasaan
Latifah. Namun, Allah swt ternyata punya rencana lain, mereka kembali
dipertemukan dalam sebuah acara pernikahan salah seorang guru SMA mereka. Sikap
Naufal tidak lagi seacuh yang dulu, saat Latifah menyapanya dia memberikan
respon.
“Naufal yah?” sapa Latifah
“Yah, aku Naufal, eh..kamu Latifah
kan?” tanya Naufal
“Iya, kamu masih ingat aku yah. Aku
pikir tidak ada teman SMA kita yang
kamu ingat” ujar Latifah
“
ah..tidak juga cuman beberapa kok yang aku ingat termasuk kamu.” Jawab Naufal sembari tersenyum.
“kamu
sekarang banyak berubah, sudah tidak secuek waktu SMA” lanjut Latifah
“maaf
yah selama SMA sikap aku seolah tidak peduli pada kalian semua.” kata
Naufal merenung
“ngomong-ngomong, aku sudah lama
nih mau bertanya, apa kita pernah bertemu
selain di SMA?” tambah Naufal
“yah,
kita pernah satu kelas saat SD” jawab Latifah tertunduk
“astaga..ternyata
dugaanku selama ini benar, kamu adalah Latifah teman SD ku
dulu. Maafkan aku, selama SMA aku selalu bersikap
dingin terhadapmu, tetapi itu
karena aku tidak mau ada wanita
yang menyukaiku” kata Naufal dengan nada
penyesalan.
“memangnya kenapa kalau ada wanita
yang menyukaimu? tanya Latifah dengan
wajah tak mengerti
“aku hanya tidak mau menyakiti
mereka, karena aku telah mencintai seseorang,”
tambah Naufal mengungkapkan perasaanya
“kamu benar-benar adalah laki-laki
yang baik. Sungguh beruntung wanita yang
memiliki cintamu. Kalau boleh
aku tau siapa gerangan wanita beruntung itu?” Puji
Latifah
“aah..nanti kamu juga pasti tahu. Aku
akan segera melamarnya, dan kamu adalah
orang
pertama yang akan ku beritahu hasilnya.” Naufal menjawab sambil
bercanda
“aku do’akan semoga kamu bahagia
bersamanya. Eh.. aku sudah harus pulang, aku
lupa
kalau ibuku menyuruhku untuk membeli obat di apotek.” Latifah menutup
pembicaraan, dan bergegas meninggalkan tempat
acara”
hati Latifah
sangat sakit mendengar berita bahwa Naufal akan segera menikah. Walau
bagaimanapun, dia masih memiliki perasaan terhadap Naufal. Namun, dia juga telah
mengetahui bahwa sebentar lagi Naufal akan menjadi milik orang lain. Untuk
menenangkan hatinya, Latifah meminta izin kepada orangtuanya untuk berlibur ke
rumah kakeknya di Kabupaten Sinjai selama 3 hari. Orantuanya mengizinkan, dan
pada hari itu juga Latifah langsung berangkat ke rumah kakeknya.
Hari kedua Latifah berada di
Sinjai, tepatnya Ba’da Isya, dia mendapat kabar dari ayahnya bahwa saat itu di
rumahnya sedang ada seorang pemuda bernama Dzaki, datang bersama keluarganya
untuk melamarnya. Tanpa bertanya panjang lebar, Latifah langsung mengatakan
kepada ayahnya bahwa dia mau menjadi istri pemuda itu, dengan syarat pesta
pernikahannya dilaksanakan besok malam ba’da Isya. Walaupun terkesan sangat
terburu-buru, tetapi yang ada dalam benak Latifah, ini adalah jalan keluar dari
Allah swt untuk menyelesaikan masalahnya.
Mendengar jawaban putrinya, ayah
Latifah langsung menemui Dzaki dan menyampaikan jawaban sekaligus persyaratan
yang diajukan Latifah. Dzaki meminta waktu untuk bernegosiasi dengan
orangtuanya. Dan akhirnya, mereka menyanggupi persyaratan Latifah.
Keesokan harinya, sambil menunggu
Latifah tiba, kedua keluarga tersebut saling membantu mempersiapkan kelengkapan
jalannya prosesi pernikahan termasuk memilih gaun pengantin untuk calon
mempelai. Gaun pengantin untuk Latifah dipilih langsung oleh Dzaki. Gaun
berwarna putih berenda lengkap dengan jilbab putih sepasang dengan pakaian untuk
pengantin pria menjadi pilihan Dzaki. Untuk tamu undangan mereka hanya
mengundang sanak-saudara mereka saja.
Sesampainya di rumah, Latifah beristirahat kurang lebih 2
jam sebelum kembali lagi berangkat ke tempat Rias Pengantin. Dalam perjalanan
Latifah meyakinkan hatinya bahwa Dzaki adalah yang terbaik untuknya. Meskipun
dia sendiri belum pernah melihat Dzaki namun dia percaya Dzaki pasti adalah
pemuda yang tepat untuk menjadi Imamnya. Di satu sisi Dzaki sedang sibuk
membungkus kado hadiah pernikahannya untuk Latifah.
Pada saat itu waktu sudah
menunjukkan pukul 8.00, kedua calon mempelai, penghulu, keluarga dan para tamu
telah berkumpul di dalam Gedung tempat acara pernikahan. Kedua mempelai
dipersilahkan memasuki ruangan untuk melakukan prosesi ijab kabul. Latifah
datang dari pintu sebelah kanan, dia nampak begitu anggun dengan gaun putih di
tubuhnya. Sementara Dzaki datang dari pintu sebelah kiri. Mereka saling
memandang, dan betapa kagetnya Latifah melihat laki-laki yang ada di hadapannya
adalah Naufal Mumtaz Ad-Dzaki, laki-laki yang telah lama dicintainya. Air mata
kebahagiaan jatuh dari kedua bola mata matanya.
Sedikitpun dia tidak tahu kalau Dzaki ternyata hanyalah nama lain dari
Naufal. Dia bersyukur karena pada akhirnya Allah swt mempersatukannya dengan Naufal Mumtaz
Ad-Dzaki, laki-laki yang selalu dia harapkan menjadi imamnya. Disisi lain, Naufal
alias Dzaki tertawa karena rencananya untuk membuat Latifah terkejut berhasil.
Proses Ijab kabul berjalan lancar dan pertanda sekarang mereka adalah sepasang
kekasih yang sah secara agama dan hukum. Setelah para tamu pulang, Latifah,
Naufal dan semua keluarganya pulang ke rumah Naufal. Sesampainya di rumah,
mereka langsung masuk ke kamar, di dalam kamar Latifah memukul Naufal dengan
manja sambil berkata:
“bukankah kanda mengatakan bahwa
kamu akan melamar seorang gadis yang telah
lama kamu cintai?” tanya
Latifah heran
“tetapi aku tidak mengatakan bahwa
itu bukan dinda kan?” jawab Naufal merayu
“jika wanita yang kanda maksud itu
adalah dinda, lalu kenapa kanda tidak pernah
menyapa dinda saat SMA dulu?”
tanya Latifah merajuk
“maaf yah dinda, sebenarnya kanda
tidak tahu kalau kamu itu adalah gadis yang
sama dengan gadis yang kanda cintai sejak SD, karena pada waktu SD dinda
belum
berjilbab, sementara waktu
bertemu di SMA dinda sudah berjilbab dan
semakin cantik, jadi kanda
tidak mengenali dinda, maklum kanda agak pelupa”
jawab Naufal menjelaskan
“kanda..apa kanda tahu sebenarnya
dinda juga mencintai seseorang sejak SD?”
tanya Latifah
“aku tidak tahu. Siapa dia?” Jawab
Naufal cemburu
“dia adalah Naufal Mumtaz Ad-Dzaki
teman SD dinda” Jawab Latifah tertawa
“dinda memang pandai menggombal,
sebagai hadiahnya kanda akan memberikan
sesuatu yang istimewa hanya
untuk dinda. Silahkan dibuka” tambah Naufal sambil
mengulurkan sebuah bingkisan
kecil berwanra biru muda
“cantik sekali kalungnya kanda
terima kasih.” ucap Latifah setelah
membuka
bingkisan tersebut.
“kanda senang kamu suka dengan
kalung itu” jawab Naufal
“dinda sangat bahagia kanda,
karena mulai sepertiga malam sebentar, akan ada
orang yang berdiri memimpin dinda untuk
bersujud kepada-Nya” ujar Latifah
“selama kanda bisa, kanda akan
berdiri di depan dinda di setiap rakaat” tambah Na
“Ana Uhibbuka Fillah” ucap Latifah
“Wa Ana Uhibbu Ma’aki Fillah.”
jawab Naufal
Ternyata
isi bingkisan tersebut adalah sebuah Liontin emas bertuliskan NaufaLatifah. Setelah resmi menjadi
suami istri, mereka hidup bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah,
warohmah.
|
UNSUR INTRINSIK CERPEN
“KU TUNGGU ENGKAU MENJADI IMAMKU”
1) Tema: Percintaan
2) Latar:
a. Latar tempat: SD, SMAN 1
Takalar, tempat acara perpisahan, tempat pesta pernikahan guru SMA Latifah
dan Naufal, di rumah Latifah, di rumah kakek Latifah, di Gedung tempat
acara pernikahan Latifah dan Naufal, di kamar, di rumah Naufal
b. Latar waktu: Pagi, siang,
malam
c. Latar suasana:
Mengharukan dan
3) Penokohan (tokoh dan
watak):
a. Latifah: ramah, cerdas,
santun, sabar, setia dan manja
b. Naufal: pendiam, cerdas,
setia, romantis, lucu, cekatan dan sulit ditebak
c. Ayah Latifah: Baik, penyayang,
bijaksana
d. Orang tua Naufal: baik,
bijaksana, pengertian
e. Keluarga Naufal dan
Latifah: baik
4) Alur: alur mundur
(menceritakan masa lalu)
5) Sudut pandang: orang
ketiga (penulis sebagai pencerita)
6) Gaya bahasa: hiperbola
7) Amanat: Yakinlah bahwa
Tuhan pasti menyediakan yang terbaik untuk kita.
Jika Dia menakdirkan kita
berjodoh dengan orang yang kita cintai, maka tidak ada seorangpun yang
dapat merebutnya dari kita
|
Cinta monyet, kata itulah yang
sering digunakan untuk melambangkan kesemuan perasaan anak-anak sekolah dasar
pada teman lawan jenisnya. Cinta adalah perasaan, monyet adalah sejenis
kera, jadi kalau diartikan berdasarkan
asal katanya, cinta monyet adalah perasaan sejenis kera. Lalu mengapa julukan
ini juga digunakan untuk melambangkan cinta anak-anak? Mungkin kembali lagi yah pada teori Darwis
bahwa manusia itu berasal dari evolusi kera. Kalau kera dikatakan bisa berevolusi menjadi manusia, kenapa kera
yang sekarang tidak berubah-berubah yah? Ah...sudahlah kalau membahas tentang
teori bisa panjang kali lebar.